Kemudian, pada akhir 1990-an, terjadi depresi di seluruh dunia dan harga properti jatuh bagai setumpu kartu yang ambruk. Dalam waktu satu malam, para miliuner yang kekayaannya terikat pada bisnis real estate dan pasar saham mendapati kekayaan mereka terhapus begitu saja. Tidak terkecuali Donald Trump.
Dalam hitungan hari, kekayaan pribadi Trump lenyap dan malah memiliki utang sebesar 900 juta dolar. Bank mulai membuatnya bangkrut.
Sebagian temannya yang mengalami tragedi yang sama meyakini bahwa secara finansial hidup mereka sudah berakhir dan mereka pun bunuh diri.
Tatkala mantan istrinya menelpon, ia pikir wanita itu ingin menyampaikan rasa simpatinya. Ternyata, wanitu itu melayangkan serangan lain dengan menuntutnya untuk memberi uangnya yang tersisa sebagai tunjangan perceraian.
Orang-orang yang ia anggap sebagai teman dekatnya kabur pada saat ia sangat membutuhkan mereka. Trump yang mustahil dikalahkan tidak menganggap ini sebagai akhir hidupnya. Keadaan itu hanya berarti bahwa ia punya peluang untuk kembali bekerja dan memutar balik keadaan. Meskipun kehilangan semuanya secara finansialm Trump masih memiliki pengalaman yang berharga miliaran dolar, dan ketrampilan bisnis.
Selama enam bulan berikutnya, Trump menegosiasikan salah satu transaksi bisnis terbesar dalam sejarah bisnis. Dan dalam waktu tiga tahun, Trump meraih pendapatan lebih dari 3 miliar dollar Amerika. Dalam buku terakhirnya, The Art of Comeback, Trump bicara tentang bagaimana persinggungannya dengan kebangkrutan yang membuatnya lebih bijak, lebih kuat, dan lebih fokus dari pada sebelumnya.
Jika bukan karena kehancuran finansial, Trump tidak akan pernah tahu siapa teman sejatinya, dan tidak akan ernah fokus untuk dapat meraih pendapatan 3 miliar dolar Amerika dalam waktu tiga tahun.
Ketiga sebagian besar pebisnis membiarkan resesi tahun 1990-an menghancurkan seluruh kekayaan dan kehidupan pribadi mereka, Donald Trump menggunakan kemunduran itu untuk menjadikan dirinya lebih kuat dan lebih kaya daripada sebelumnya.
Sekali lagi, masalahnya bukan apa yang terjadi pada kita, tetapi bagaimana kita memaknai kejadian tersebut yang menentukan apa yang kita lakukan dan akhirnya hasil yang kita buat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar